Pakar Ingatkan Pemerintah Perlu Berhati-hati Terapkan Strategi Wolbachi saat Tangani DBD
2 mins read

Pakar Ingatkan Pemerintah Perlu Berhati-hati Terapkan Strategi Wolbachi saat Tangani DBD

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memilih wolbachia sebagai salah satu strategi pengendalian penyakit demam berdarah dengue atau DBD di Indonesia. Wolbachia adalah bakteri alami yang umum ditemukan di hewan arthropoda atau serangga. Bakteri ini mampu menghambat replikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk.

Namun, terkait inovasi ini, Pakar Ahli kesehatan masyarakat sekaligus Epidemiolog Dicky Budiman mengingatkan jika pemerintah perlu berhati hati. "Sekali lagi hati hati dalam memilih pendekatan yang melakukan intervensi pada alam dan itu sangat berbahaya," ungkap Dicky pada keterangan, Jumat (17/11/2023). Tangis Mbah Noerman Diusir Mantu, Datang dari Kalimantan ke Jakarta karena Rindu Anak, Cucu Tak Suka Halaman 4

Klarifikasi Irish Bella soal Perceraian Dinilai Penuh Pertimbangan, Pakar Ekspresi: Berhati hati Tak Bisa Disetir, Perjudian Shin Tae yong Bersama Timnas Indonesia di Piala Asia 2023 Halaman 4 Jerit Hati Denise Chariesta Ngaku Mau Berubah Usai Disebut Jadi Tersangka, Nangis Lihat Wajah Anak

Ramalan Zodiak Selasa, 19 Desember 2023: Capricorn akan Kecewa, Pisces Perlu Berhati hati Warga Ukraina Siap %27Angkat Kaki%27 dan Ganti Kewarganegaraan Daripada Berperang Melawan Rusia Kehati hatian ini, kata Dicky diperlukan karena data berbasis sains terkait strategi ini belum terlalu kuat.

Masih ada beberapa potensi melemahnya efektifitas akibat berbagai faktor. Sebagai contoh, suhu bumi yang semakin panas bisa pengaruhi efektifitas Wolbachia. "Bahwa pada suhu semakin panas, dampak dari wolbachia dalam media blocking patogen (DBD) ini menurun," kata Dicky.

"Karena pada suhu panas, masa inkubasi nyamuk mengigit seseorang terinfeksi itu menjadi pendek. Ini akhirnya tidak terkejar efektiftasnya," lanjut Dicky. Kedua, suhu yang semakin panas ini mengurangi perkembangan Wolbachia. Padahal, jumlah wolbachia yang cukup banyak dibutuhkan untuk bisa efektif menahan reflikasi virus.

Belum lagi dari faktor virus, berpotensi membentuk mutasi baru yang justru bisa merugikan manusia. "Ketika kita mengintervensi alam, dalam konteks makhluk hidup, virus, nyamuk maka itu sendiri akan terus berevolusi karena ada yang menghambat dia. Ini berpotensi bisa jadi merugikan manusia," jelas Dicky. Namun, Dicky sekali lagi menekankan tidak menentang betul keputusan pemerintah.

Hanya saja, ia mewanti wanti untuk lebih berhati hati. "Tidak mengecilkan riset, potensinya ada, tapi masih jauh unutk program yang luas. Saya cenderung jangan banyak banyak dulu. Kita harus betul betul pastikan mekanisme montoring yang bisa dilakukan," urai Dicky. Selain itu, inovasi ini juga perlu melibatkan multifaktor untuk mendukung efektifitasnya.

"Itu sebabnya paling aman dalam pendekatan publik health, 3M plus itu tetap jadi strategi utama untuk dijalankan," pungkasnya. Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *