Makna Baju Adat Tanimbar Maluku yang Dipakai Jokowi Saat Sidang Tahunan MPR 2023, Sakral dan Perkasa
8 mins read

Makna Baju Adat Tanimbar Maluku yang Dipakai Jokowi Saat Sidang Tahunan MPR 2023, Sakral dan Perkasa

Presiden Joko Widodo (Jokowi) kembali mengenakan pakaian adat saat menghadiri Sidang tahunan MPR bersama DPR dan DPD RI di Kompleks Parlemen Jakarta, Rabu (16/8/2023) pagi. Jokowi yang tiba di Kompleks Parlemen sekitar pukul 08.33 WIB terlihat mengenakan pakaian adat dari daerah Tanimbar Maluku. Presiden Jokowi kembali mengenakan pakaian adat saat menghadiri Sidang tahunan MPR bersama DPR dan DPD RI. Kali ini memakai adatdaerah Tanimbar Maluku

Wakil Presiden Ma'ruf Amin tampak mengenakan pakaian adat Betawi. Turut mendampingi keduanya, Ibu Negara Iriana Jokowi dan Ibu Wakil Negara Wurry Ma'ruf Amin. Melihat penampilan Jokowi, terlihat sang Presiden mengenakan kain ikat khas Tanimbr yang dipadukan denga setelah kemeja putih dan celana hitam.

Badai Matahari Diramalkan Akan Terjadi di Akhir Tahun 2023, Apa itu, dan Apa Efeknya Bagi Bumi? Serambinews.com Firli Bahuri Mundur dari KPK, Ucapkan Terimakasih ke Jokowi Siapa Rizky Irmansyah, Ajudan Pribadi Prabowo yang Viral Joget Bareng Nikita Mirzani, Belum Menikah?

Bacaan Doa di Malam Natal, Ungkapan Syukur kepada Yesus Kristus atas Kasih Sayang Nya Kapal Rohingya Terpantu Dekati Perairan Lhokseumawe, Aceh Timur, Pidie, Aceh Besar dan Sabang Serambinews.com Prediksi Manchester City vs Fluminense, Pep Ucap Terima Kasih Kepada Mahrez

Makna Baju Adat Tanimbar Maluku yang Dipakai Jokowi Saat Sidang Tahunan MPR 2023, Sakral dan Perkasa Warga Ukraina Siap %27Angkat Kaki%27 dan Ganti Kewarganegaraan Daripada Berperang Melawan Rusia Kain ikat Tnaimbar ini juga dijadikan penutup kepala Presien.

Seperti apa kain ikat tanimbar? Kain tenun juga menjadi salah satu komponen yang ada dalam lambang daerah Kabupaten Maluku Tenggara Barat yang dikenal dengan Kepulauan Tanimbar. Selain menjadi ciri khas kerajinan, kain tenun juga memiliki nilai adat yang sakral dalam pelaksanaan adat istiadat.

W. Pattinama menulis sejak dulu masyarakat di Tanimbar sudah mengetahui cara menenun. Mereka akan mengolah daun lontar dan seratnya dianyam hingga menyerupai kain lalu dipakai sebagai penutup tubuh. Berbeda dengan daerah Maluku lainnya, leluhur orang Tanimbar sudah mengenakan anyaman daun lontar untuk menutupi tubuh mereka.

Dengan perkembangan waktu, mereka memakai kapas untuk dipintal dan dijadikan benang untuk menenun. Kala itu banyak pohon kapas tumbuh di wilayah Pulau Yamdena. Tak hanya untuk menutupi tubuh, fungsi kain tenun di Tanimbar juga digunakan untuk acara adat seperti kematian. Saat ada yang meninggal, maka anggota keluarga harus membawa kain tenun.

Hal serupa juga dilakukan saat upacara pernikahan hingga pelantikan kepala desa. Pada umumnya kain tenun bagi masyarakat Tanimbar dianggap sebagai barang yang cukup berharga. Dari awalnya menggunakan serat daun lontar, masyarakat beralih menggunakan benang dengan bahan dasar kapas sehingga kain tenun lebih bertahan lama.

Di Tanimbar sanggar sanggar tenun sudah jarang memintal dari bahan kapas untuk pembuatan kain tenun. Mereka lebih banyak memakai benang yang sudah dijual dipasaran untuk menenun karena lebih praktis. Sehingga kain yang dibuat lebih cepat selesai dan cepat bisa dijual atau untuk dipakai sendiri atau untuk keperluan adat.

Kain tenun pada masyarakat Tanimbar terdapat hampir pada semua desa dengan motif yang berbeda antara desa satu dengan desa lainnya. Sebagain besar penenun adalah perempuan. Sejak dulu, saat anak perempuan sudah beranjak dewasa maka dia akan diajari menenun. Jika belum bisa menenun, maka perempuan belum dianggap dewasa dan belum siap untuk menikah.

Dahulu, mereka membuat kain tenun dengan tiga warna yakni hitam, kuning dan merah. Warna hitam didapatkan dari daun taru. Sementara warna kuning didapatkan dari pohong bengkudu atau nengwe. Sedangkan untuk warna merah, mereka menggunakan kulit pohon mangrove yang disebut dengan tongke/mange mange. Saat ini penenun jarang menggunakan benang yang terbuat dari kapas karena menenun membutuhkan waktu lebih lama, kain agak berat sehingga kurang diminati pembeli lokal.

Mereka lebih suka menggunakan benang pabrik dengan pewarna kain pabrikan. Para penenun yang sebagian besar perempuan akan mengerjakan satu helai kain selama tiga hari jika dikerjakan dari pagi sampai sore. Namun jika dikerjakan di antara pekerjaan rumah tangga lainnya, satu lembar kain akan diselesaikan dalam waktu 7 hari.

Pada umumnya penenun di Tanimbar akan mengerjakan kain tenun seorang diri mulai dari awal pembuatan motif hingga selesai. Motif biasanya akan dibuat terlebih dahulu di sehelai kertas. Pada umumnya motif kain tenun baik klasik maupun modern tak berbeda jauh. Motif ini berfungsi sebagai pemujaan terhadap roh roh tertentu, kehidupan leluhur yang diciptakan secara simbolik dalam bentuk keindahan yang diabstrakkan.

Ada motif yang melambangkan keperkasaan seperti anak panah, bendera atau manusia tanpa kepala yang melambangkan perang antar desa. Ada juga motif geometris dalam bentuk tumpal, palang, swastika, belah ketupat, empat persegi dan lain sebegainya. Ada juga ragam hias kunci/kait, pilin ganda dan lain lain.

Pada motif kain tenun klasik, ada banyak beragam motif di dalamnya. Sementara untuk motif modern, pada satu kain tak banyak motif dan banyak dikombinasikan dengan motif kriustik bentuk bunga cengkeh, bunga larat dll. Ada juga kain tenun yang disebut kain sinun yang biasanya digunakan untuk pembungkus jenazah. Di kain sinun, terdapat motif tumpal dan bgaian dalamnya ada motif kprak empat per segi dan diapit motif kait/kunci yang melambangkan peti mati.

Di sisi lain terdapat motif kepala, kaki dan tangan manusia yang terpisah yang melambangkan kematian. Di bagian ujung dilukis motif pohon hayat dengan puncak mengarah ke luar. Ada juga kain tenun salendang yang dikenal dengan nama arabil ira. Motifnya adalah ikan yang sedang makan umpan yang menggambarkan kekayaan alam masyarakat Selaru.

Motif motif lain adalah motif anjing (siaha), kembang dengan jambangan, lebah (niri), sarang lebah, perahu (abo), ruas bambu/temar akar, dan bulan sabit (wulan lihir). Ada juga motif ular cincin/ular fangat, kembang enau, kuncup/tandan enau, kenari (iwar ihin), katak/kodok, bunga luang kecil, hias sula (laor), lipan/kaki seribu, tali tiga, jagung, tali sembilan, kain kapas hingga motif tulang ikan. Total ada 41 motif yang ada di tenun kain Tanimbar.

Mengutip Kompas.com, Presiden Joko Widodo (Jokowi) melanjutkan kebiasaannya untuk mengenakan pakaian adat dari berbagai suku di Indonesia saat menyampaikan pidato kenegaraan setiap 16 Agustus. Tradisi itu dimulai oleh Jokowi sejak 2019 silam. Para presiden sebelum Jokowi hanya mengenakan setelan jas formal setiap menyampaikan pidato kenegaraan menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia.

Berikut ini adalah daftar baju adat yang dikenakan Jokowi saat membacakan pidato kenegaraan. Presiden Jokowi mengenakan adat Suku Sasak dari Nusa Tenggara Barat (NTB) saat membacakan pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2019. Pakaian adat pria Suku Sasak yang dikenakan Presiden bernama pegon.

Pegon terlihat seperti jas karena merupakan akulturasi dan terpengaruh dari tradisi Jawa dan jas Eropa. Hal itu membuat Pegon dianggap sebagai lambang keagungan dan kesopanan bagi Suku Sasak. Jokowi melanjutkan kebiasannya mengenakan pakaian adat dalam menyampaikan pidato kenegaraan pada 2020.

Saat itu Jokowi mengenakan pakaian adat Suku Sabu dari Nusa Tenggara Timur (NTT). Pakaian adat yang dikenakan Jokowi terdiri dari kemeja hitam lengan panjang, kain selempang menyilang bercorak bunga berwarna emas, dan dilengkapi dengan ikat kepala bercorak serupa. Suku Sabu merupakan salah satu kelompok etnis masyarakat yang mendiami Pulau Sawu dan Pulau Raijua di NTT.

Saat menyampaikan pidato kenegaraan pada 2021, Presiden Jokowi memilih mengenakan pakaian adat Suku Baduy. Presiden Joko Widodo menyampaikan pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR Tahun 2021 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (16/8/2021). ANTARA FOTO/Sopian/Pool/wpa/aww. Suku Baduy bermukim di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten.

Pakaian adat Suku Baduy yang dikenakan Jokowi terdiri dari telekung, baju kutung, dan tas selempang. Telekung adalah ikat kepala khas Suku Baduy, kadang disebut 'koncer' atau 'roma'. Ikat kepala ini merupakan hasil tenun masyarakat Baduy.

Sedangkan Kutung adalah baju putih berlengan panjang tanpa kerah, juga disebut 'jamang sangsang'. Pakaian itu kerap dikenakan oleh Suku Baduy Dalam. Sedangkan yang dipakai Jokowi adalah baju berwarna biru dongker yang kerap dikenakan oleh Suku Baduy Luar. Dalam pidato kenegaraan pada 16 Agustus 2022, Presiden Joko Widodo mengenakan pakaian adat Baju Paksian dari Bangka Belitung.

Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo mengenakan baju adat Bangka Belitung saat menghadiri Sidang Tahunan MPR RI dan Sidang Bersama DPR RI dan DPD RI Tahun 2022 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/8/2022). Pakaian adat itu terdiri dari jubah panjang sebatas betis, celana panjang, selempang dan kain tenun cual khas Bangka. Presiden juga mengenakan untuk penutup kepala yang disematkan sungkon. Baju yang dikenakan Jokowi memiliki ornamen hiasan bermotif Pucuk Rebung.

Warna asli Baju Paksian adalah merah. Jokowi mengenakan baju Paksian berwarna hijau lumut. Artikel ini merupakan bagian dari KG Media. Ruang aktualisasi diri perempuan untuk mencapai mimpinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *